Minggu, 19 Juni 2016

Permasalahan Penerapan IS/IT

Permasalahan Penerapan IS/IT
¡  Paradoks Produktifitas
¡  Investasi SI/TI masih belum berhasil memberikan manfaat yang diharapkan kepada organisasi

Mengapa Paradoks Produktifitas Terjadi
1.      Analisis dan representasi data tidak menunjukkan terjadinya peningkatan produktivitas
Produktivitas à pembandingan output dengan input
Outputà pengukurannya sangat relatif sifatnya
Input à pemakaian TI dalam perusahaan bersifat sistemik yaitu menyebar keseluruh proses ini dan aktivitas penunjang yang ada, sehingga sulit menentukan proporsi nilai investasi.

2.      Tingginya Alokasi IT
Kurang adil jika investasi dalam TI hanya dibebankan pada sebuah proses atau sub sistem, sementara kontribusi manfaat yang ada di dirasakan diberbagai proses yang lain diperusahaan
Contoh kasus :
      Pengadaan investasi mesin ATM
      meningkatkan produktivitas pelayanan pada pelanggan dibandingkan dengan petugas teller
      Manfaat sistemik yang ada adalah:
q  mempercepat transfer antar rekening
q  mengurangi biaya komunikasi dan transaksi
q  meningkatkan rasa aman pelanggan
q  kepuasan nasabah
3.      Ada kerugian yang muncul di area kerja lainnya
Penggunaan sebuah aplikasi di satu departemen/ divisi berhasil meningkatkan produktivitas karyawan yang ada di dalamnya
Karena produktivitas meningkat, perusahaan dapat mengurangi jumlah karyawan pada departemen divisi terkait dan memindahkan ke divisi lain


Permasalahan lain dalam penerapan SI/TI adalah investasi SI/TI masih belum berhasil memberikan manfaat yang diharapkan kepada organisasi (Ward and Peppard, 2002). Pimpinan perusahaan sering dihadapkan pada kenyataan bahwa belanja modal (capital expenditure) untuk SI/TI tidak membuahkan hasil hingga nilai tertentu sesuai dengan besarnya investasi yang telah dilakukan. Perusahaan menggunakan SI/TI untuk pengelolaan akuntansi dan keuangan, operasional pemasaran, layanan pelanggan, koordinasi antar kantor cabang, perencanaan produksi, pengendalian persediaan, mengurangi lead time, melancarkan distribusi dan lain sebagainya. Namun tidak jelas apakah penggunaan SI/TI semacam ini sudah secara nyata menghasilkan output yang lebih banyak (Robert Solow dalam McCarty, 2001).

Implementasi Manajemen Strategis Sistem Informasi

 Cara atau jalan dimana para perencana strategi menentukan sasaran dan mengambil keputusan
  • Analyzing the environment.
  • Planning direction.
  • Planning strategy.
  • Implementing strategy.
Tahapan Perencanaan Strategis :

  • Menetapkan misi dan tujuan perusahaan
  • Meneliti ancaman dan peluang
  • Meneliti kekuatan dan kelemahan
  • Mempertimbangkan alternatif strategi
  • Memilih strategi
  • Implementasi strategi
  • Evaluasi strategi

PERUMUSAN STRATEGI
  • Merumuskan misi perusahaan, meliputi rumusan umum tentang maksud keberadaan (purpose), filosofi (philosophy), dan tujuan (goal).
  • Mengembangkan profil perusahaan yang mencerminkan kondisi intern dan kapabilitasnya.
  • Menilai lingkungan ekstern perusahaan, meliputi baik pesaing maupun faktor-faktor kontekstual umum.
  • Menganalisis opsi perusahaan dengan mencocokkan sumber dayanya dengan lingkungan ekstern.
  • Mengidentifikasi opsi yang paling dikehendaki dengan mengevaluasi setiap opsi yang ada berdasarkan misi perusahaan.
  • Memilih seperangkat sasaran jangka panjang dan strategi umum (grand strategy) yang akan mencapai pilihan yang paling dikehendaki.
  • Mengembangkan sasaran tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai dengan sasaran jangka panjang dan strategi umum yang dipilih.
  • Mengimplementasikan pilihan strategik dengan mengalokasikan sumber daya anggaran yang menekankan pada kesesuaian antara tugas, SDM, Struktur, teknologi, dan sistem imbalan.
  • Mengevaluasi keberhasilan proses strategik sebagai masukan bagi pengambilan keputusan yang akan datang.

TEKNOLOGI INFORMASI & IMPLIKASINYA PADA STRATEGI BISNIS

MENGAPA STRATEGI SI PERLU DI BUAT
  • Sumber daya yang dimiliki perusahaan sangat terbatas sehingga perlu dioptimalkan.
  • Untuk meningkatkan daya saing atau kinerja perusahaan, karena para kompetitor memiliki sumber daya teknologi yang sama.
  • Untuk memastikan bahwa asset teknologi informasi dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan profitabilitas perusahaan, baik berupa peningkatan pendapatan atau revenue maupun pengurangan biaya-biaya atau costs.
  • Untuk mencegah terjadinya kelebihan investasi (over investment) atau kekurangan investasi (under investment) di bidang teknologi informasi.
  • Untuk menjamin bahwa teknologi informasi yang direncanakan dan dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan bisnis perusahaan akan informasi.

Unsur-unsur Dalam Strategi SI
  1. Sistem Informasi :  jenis-jenis informasi apa saja yang dibutuhkan oleh perusahaan dan hal-hal yang berkaitan dengannya (kecepatan proses pengolahan data menjadi informasi, tingkatan detil informasi, cara menampilkan informasi, volume dan transaksi informasi, penangung jawab informasi, dan lain sebagainya).
  2. Teknologi Informasi : komponen-komponen perangkat keras (komputer, infrastruktur, alat komunikasi, dll.) dan perangkat lunak (aplikasi, sistem operasi, database, dll.) yang harus tersedia untuk menghasilkan sistem informasi yang telah didefinisikan.
  3. Manajemen Informasi : perangkat manusia (brainware) yang akan mengimplementasikan sistem informasi yang dibangun dan mengembangkan teknologi informasi sejalan dengan perkembangan perusahaan di masa mendatang.

Penyusunan Strategi SI Hendaknya Memperhatikan :
  • Business Strategy
  • Business Trends
  • Competitor Analysis
  • IT/IS Trends
  • Existing IT/IS

   Keunggulan Strategis Bisnis Berbasis TI

  •   Cari tahu lebih lanjut tentang kebutuhan pelanggan.
  •   Memantau persepsi pelanggan layanan.
  •   Memungkinkan respon yang cepat dan akurat untuk permintaan pelanggan.
  •   Menyediakan berbagai pilihan pengiriman untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
  •   Mengurangi baru pengenalan produk timah kali.
  •   Aktifkan berbagi pengetahuan di seluruh organisasi untuk memfasilitasi inovasi.
   Kunci Sukses Bisnis Berbasis TI

  • Mengidentifikasi target pasar, dan mengembangkan basis unik informasi tentang pasar yang dipilih dan kebutuhannya.
  • Membangun proses spesialis melalui sistem untuk menghasilkan keuntungan biaya yang jelas atau khas proposisi nilai pelanggan vis-a`-vis server pasar secara umum.
  • Menghubungkan organisasi melalui sistem ke dalam proses bisnis pelanggan untuk meningkatkan biaya switching dan membangun hambatan potensi untuk masuk kembali dari server pasar secara umum.
·    
    Aspek Penting Dalam Penyusunan Strategi

  • Seleksi alam menyatakan bahwa organisasi yang menggunakan strategi high-payoff memiliki keunggulan kompetitif atas mereka yang menggunakan strategi rendah hasil.
  • Imitasi menggambarkan bagaimana organisasi meniru praktek rekan-rekan yang sukses dalam industri mereka.
  •  Penguatan ini berkaitan dengan bagaimana organisasi memonitor perilaku mereka sendiri dan mendukung strategi yang mengakibatkan hadiah tinggi di masa lalu.
  •  jawaban terbaik adalah perilaku di mana dalam organisasi merumuskan strategi mereka berdasarkan apa yang mereka harapkan pesaing mereka akan melakukan.

Related Posts:

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegagalan dan Kesuksesan Perencanaan Sistem Informasi

1.1.Latar Belakang Pendahuluan
Perkembangan bisnis dewasa ini yang semakin pesat dan juga semakin ketat, menuntut para pelaku usaha untuk mampu terus menerus beradaptasi dan berinovasi dalam melakukan usahanya. Hal ini sangat diperlukan agar bisnis yang dijalankannya dapat terus bersaing atau bahkan menjadi market leader. Untuk itu, perusahaan harus mampu melakukan perbaikan dan perubahan yang terus menerus dalam segala hal seperti pengembangan organisasi, pengembangan sumber daya manusia, perencanaan bisnis dan lain sebagainya khususnya dalam hal sistim informasi perusahaan.
Sistim informasi sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam berbagai hal misalnya untuk pengumpulan data, penyimpanan sampai pengolahan data. Sebagai bagian integral dari sistim pengambilan keputusan, mengidentifikasi masalah, peramalan bisnis dan masih banyak lagi. Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.
Sistim informasi merupakan suatu sistim yang kompleks dan memerlukan perencanaan dan pengembangan yang cermat agar sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Abdulkadir menjelaskan bahwa sistem informasi merupakan sebuah sistem yang menyajikan informasi yang digunakan untuk operasi dan manajemen dalam pengambilan keputusan dalam organisasi.
Biaya pembangunan dan pengembangannya dapat dikatakan relatif mahal, mengapa ? karena pembangunan sistim informasi membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya serta mampu mengintegrasikannya dengan kebutuhan perusahaan yang biasanya memiliki kompleksitas yang tinggi.
Sebelum membangun sistem informasi ini, perusahaan harus melakukan beberapa langkah terlebih dahulu agar pembangunan sistem informasi yang dilakukan dapat berjalan dengan baik.
 1.2.Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1. Menjelaskan tentang Sistem Informasi Manajemen beserta komponen-komponennya secara sederhana
2. Menjelaskan mengenai hubungan SI dengan perusahaan.
3. Berharap dengan diidentifikasinya masalah yang terjadi, maka solusi untuk masalah tersebut dapat ditemukan.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.
Tujuan Umum Sistem Informasi Manajemen :
Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk,dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwamanajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).
Sistem informasi manajemen (SIM) bukan sistem informasi keseluruhan, karena tidak semuainformasi di dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang otomatis.Aspek utama dari sistem informasi akan selalu ada di luar sistem komputer.
Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuantertentu dalam suatu kegiatan manajemen. Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. Banyak organisasi yang
gagal membangun SIM karena :

  1. Kurang organisasi yang wajar
  2. Kurangnya perencanaan yang memadai
  3. Kurang personil yang handal
  4. Kurangnya dukungan biaya
  5. Kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancangsistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.
SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat. Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang. Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer.
Prinsip utama perancangan SIM: SIM harus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama. Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika


Gambar 1. Komponen-komponen dalam SI (Sumber: O’Brien, 2007)
Sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan (building blok), yang terdiri dari komponen input, komponen model, komponen output, komponen teknologi, komponen hardware, komponen software, komponen basis data, komponen kontrol, dan komponen jaringan. Semua komponen tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.
1) Komponen input
Input mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi. Input disini termasuk metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumendokumen dasar.
2) Komponen model
Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yag sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
3) Komponen output
Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua pemakai sistem.
4) Komponen teknologi
Teknologi merupakan “tool box” dalam sistem informasi, Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, neghasilkan dan mengirimkan keluaran, dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
5) Komponen hardware
Hardware berperan penting sebagai suatu media penyimpanan vital bagi sistem informasi.Yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem informasi.
6) Komponen software
Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah,menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk menciptakan suatu informasi.
7) Komponen basis data
Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di pernagkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. Basis data diakses atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).
8) Komponen kontrol
Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, te,peratur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidak efisienan, sabotase dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa halhal
yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.
9) Komponen Jaringan
Untuk menghubungkan komputer-komputer perangkat keras dalam sebuah kesatuan diperlukan media untuk menghubungi antara hardware dan software sistem informasi yang digunakan di suatu perusahaan. Komponen jaringan terdiri dari hardware dan software jaringan. Hardware komponen jaringan berupa kartu penghubung jaringan (Network Interface Card), media penghubung jaringan, HUB (konsentrator), repeater, bridge, dan router. Komponen software jaringan berupa sistem operasi jaringan, network adapter drive, dan protokol jaringan.
2.2. Peranan Sistem Informasi dalam Bisnis
Sistem informasi adalah suatu sistem yang saling berinteraksi dengan lingkungan dan melalui suatu siklus yang disebut siklus sistem informasi. Siklus tersebut terdiri dari input, process, dan output (IPO). Siklus IPO menggambarkan bagaimana sistem memperoleh input dari luar dan kemudian diproses sehingga menghasilkan suatu output. Output yang dihasilkan akan dikembalikan sebagai information service. Ada tiga bagian utama dari sistem informasi:
  • Data yang mendukung informasi
  • Prosedur bagaimana mengoperasikan sistem informasi
  • Orang yang membuat produk, memecahkan masalah, membuat keputusan dan menggunakan sistem informasi
Sistem informasi, baik mulai pada tahap operasional (pemrosesan transaksi) hingga penggunaan internet (e-commerce/e-business) mempunyai tiga peran utama:

1. Mendukung proses bisnis dan operasional
2. Mendukung pengambilan keputusan oleh karyawan dan manajemen
3. Mendukung strategi untuk memperoleh keunggulan kompetitif
Kebutuhan informasi di dalam suatu organisasi ditentukan oleh level manajemen dan pihak non-manajemen yang akan menggunakan informasi. Oleh karena itu, sistem informasi yang dibangun atau dipakai dalam sebuah organisasi perlu
mengakomodasi kebutuhan pemakai berdasarkan level manajemen. Namun sebelum membicarakan sistem informasi seperti itu, berbagai level manajemen dalam suatu organisasi akan dibahas terlebih dulu.
Di dalam organisasi tradisional umumnya terdapat 4 kelompok, yaitu:
  • manajemen tingkat atas,
  • manajemen tingkat menengah,
  • manajemen tingkat bawah,
  • pegawai non-manajemen.
Manajemen tingkat atas (atau sering disebut manajemen strategis) adalah manajemen pada level paling atas yang menangani keputusan-keputusan strategis. Keputusan strategis adalah keputusan yang sangat kompleks dan jarang sekali menggunakan prosedur yang telah ditentukan. Manajemen tingkat menengah (atau disebut manajemen taktis) adalah manajemen yang bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusan taktis, yaitu keputusan-keputusan yang mengimplementasikan sasaran-sasaran strategis suatu organisasi. Manajemen tingkat bawah adalah manajemen yang bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan operasional dalam suatu organisasi. Fokus utama kejadian-kejadian sehari-hari, dan melakukan tindakan-tindakan koreksi jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Para pegawai non-manajemen adalah semua pegawai yang tidak termasuk dalam manajemen.
Di dalam organisasi, arus informasi dalam perusahaan mengalir secara vertikal dan horisontal. Arus informasi vertikal dibedakan menjadi arus informasi vertikal ke atas dan vertikal ke bawah. Arus informasi vertikal ke bawah berupa strategi, sasaran, dan pengarahan. Arus informasi vertikal ke atas berupa ringkasan kinerja organisasi.
3. PEMBAHASAN
Dengan adanya komputer untuk membantu teknologi informasi, berbagai organisasi telah mangalokasikan dana yang cukup besar untuk sistem informasi. Untuk itu diperlukan analisa mengenai faktor-faktor apa saja yang menunjang sistem informasi yang bagus. Meskipun suatu organisasi telah menerapkan sistem informasi untuk menunjang aktivitasnya, penerapan tersebut bisa berhasil ataupun tidak. Seringkali penerapan sistem informasi, terutama yang berbasis IT menjadi gagal. Kegagalan tersebut bisa berarti proyeknya tidak selesai ataupun telah diimplementasikan namun penggunaannya tidak efektif.
3.1. Kesuksesan Sistem Informasi
Peluang kegagalan penerapan sistem informasi terutama yang berbasis komputer sangat besar, maka sebaiknya dalam pembuatan sistem informasi harus melalui proses yang tepat.
Salah satu tantangan yang dihadapi sistem informasi adalah teknologi dan keadaan perusahaan yang terus mengalami perkembangan sehingga menimbulkan masalah-masalah yang lebih kompleks. Oleh karena itu perusahaan perlu mengetahui langkah-langkah yang tepat agar sistem informasi bisa terus diterapkan dengan sukses mengikuti perkembangan perusahaan. Fuadi (1995) menyebutkan empat langkah-langkah yang perlu diketahui perusahaan untuk penyempurnaan suatu sistem informasi.
Langkah pertama adalah analisa sistem. Pada langkah ini dilakukan survei intensif atas sistem yang ada dan kebutuhan pengolahan data informasi di masa depan. Suatu analisa dilakukan atas informasi yang diperoleh dalam survei. Selanjutnya, analisa tersebut mencoba untuk mengetahui apa masalah-masalah utama yang terdapat dalam sistem yang telah ada. Selanjutnya, dilakukan sintese system, yaitu pengumpulan hasil survei dan analisa untuk merancang rekomendasi bagi revisi sistem yang telah ada atau mengembangkan suatu sistem baru. Analisa tersebut harus mencakup evaluasi mengenai kebutuhan informasi bagi para manajer dan para pemakai sistem lainnya. Dengan begitu, akan diketahui kelemahan-kelemahan yang ada dalam sistem tersebut.
Langkah kedua dalam penyempurnaan sistem informasi adalah desain sistem. Desain sistem merupakan proses penyiapan spesifikasi yang terperinci untuk pengembangan suatu sistem baru. Untuk itu, harus dibuat rencana pengembangan yang disiapkan pada langkah analisa sistem. Desain sistem harus dimulai dengan spesifikasi output sistem yang diperlukan yang mencakup isi, format, volume, serta frekuensi laporan dan dokumen. Selanjutnya menentukan isi dan format input sistem dan file. Setelah itu dilakukan desain mengenai langkah-langkah pengolahan, prosedur-prosedur, dan pengendalian. Serta kegiatan untuk menyiapkan suatu sistem implementasi sistem yang baru.
Langkah ketiga dalam penyempurnaan sistem informasi adalah implementasi sistem. Pertama-tama dilakukan perencanaan dan penjadwalan aktivitas implementasi agar dapat dikordinasi dengan baik. Selain itu, bila perlu, dilakukan penerimaan pegawai baru dan pelatihan kepada pegawai baru baru serta realokasi pegawai-pegawai yang ada. Setelah itu dilakukan pengujian terhadap prosedur baru dan bila perlu dilakukan modifikasi. Standar dan pengendalian atas sistem yang baru harus diciptakan. Dokumentasi sistem yang lengkap perlu dibuat. Penggunaan sistem baru dan sistem lama dapat dilakukan secara simultan untuk periode yang singkat dan hasilnya kemudian dibandingkan untuk meyakinkan bahwa sistem baru tidak mempunayi kelemahan seperti sistem lama. Tahap akhir dari implementasi adalah mengganti sistem lama dengan sistem baru.
Langkah keempat dalam penyempurnaan sistem informasi adalah review sistem. Review tersebut dilakukan tidak lama setelah sistem baru dioperasikan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada dan mengoreksinya. Hal ini dilakukan supaya hal-hal kecil yang mungkin tidak tampak atau tidak jelas saat penggantian sistem dapat diketahui. Review tersebut harus dilakukan secara periodik. Terkadang review akan menunjukkan modifikasi besar atau penggantian yang perlu dilakukan dan prosesnya akan dimulai lagi seperti pada langkah pertama.
3.2. Kegagalan Sistem Informasi
Tidak perlu diragukan lagi bahwa sebuah perusahaan mengharapkan suatu sistem yang dapat bekerja secara cepat dan akurat sehingga produktivitas kerja di
perusahaan lebih meningkat dan perusahaan akan memperoleh keuntungan yang besar dari penerapan sistem informasi tersebut. Hal ini menyebabkan banyak perusahan mengeluarkan dana yang sangat besar untuk investasi dalam pengembangan dan penerapan sistem informasi. Berikut kegagalan penerapan sistem informasi menurut Rosemary Cassafo dalam O’Brien (1999):
  1. Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen
Pihak eksekutif perusahaan menyerahkan seluruh penerapan sistem informasi pada bagian TI, dan enggan untuk mempelajari sistem informasi yang baru atau mereka tidak mengerti sama sekali. Hal ini dapat menjadi faktor penghambat atau kegagalan dalam penerapan SI dalam suatu perusahaan yang besar. Hal ini diakibatkan karena rasa kurang memilki terhadap sistem informasi yang diterapkan oleh perusahaan. Hal ini akan menyebabkan banyak satuan kerja dalam perusahaan belum dapat mengoptimalkan fungsi dan potensi SI untuk mempermudah komunikasi antar satuan kerja, transfer informasi, dan data perusahaan, serta sharing pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk memajukan perusahaan.
  1. Tidak memiliki perencanaan memadai mengenai tahapan dan arahan yang harus dilakukan
Dalam hal ini penerapan sistem informasi dalam perusahan tidak didukung dengan perencanaan yang matang dan tidak dapat menjembatani keinginan dan kepentingan orang-orang dalam perusahaan dengan pihak yang mengerti dan membuat sistem informasi tersebut. Hal ini menyebabkan sistem yang akan dijalankan menjadi tidak terarah sesuai dengan tujuan perusahaan.
  1. Inkompetensi secara teknologi
Kurangnya keterampilan dari tenaga-tenaga yang digunakan oleh perusahaan untuk menjalankan TI dan kurangnya inisiatif dan keaktifan SDM dalam mensosialisasikan keuntungan dan kemudahan dari sistem informasi yang ada akan menyebabkan sistem yang diterapkan tidak akan
berjalan seperti yang diinginkan. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang pengetahuan di bidang TI-nya masih rendah. Kesalahannya adalah perusahaan sering memaksakan SDM yang ada untuk menjalankan investasi TI, padahal SDM tersebut belum mampu.
4. Strategi dan tujuan tidak jelas ketika akan menerapkan sistem informasi
Kebanyakan pimpinan perusahaan tidak mengetahui apa visi, misi, strategi ataupun rencana bisnis yang berkenaan dengan implementasi sistem informasi pada perusahaannya. Strategi dan tujuan merupakan faktor penting yang menjadi penentu seberapa besar pencapaian yang diinginkan ketika perusahaan akan melakukan sesuatu. Tanpa strategi dan tujuan yang jelas maka apapun yang dilakukan menjadi tidak terarah karena tidak ada batasan dimana sistem yang digunakan dapat dianggap berhasil ataupun tidak.
5. Tidak jelasnya kebutuhan terhadap sistem
Mengidentifikasi kebutuhan terhadap sistem dalam suatu perusahaan merupakan bagian dari perencanaan sistem informasi yang merupakan komponen penting dalam perencanaan perusahaan. Implementasi sistem tertentu harus dapat membantu perusahaan mencapai tujuannya yaitu memperkuat bisnis, memberikan keunggulan kompetitif, mempermudah pengelolaan sumber daya perusahaan dan penerapan teknologi dalam perusahaan
5.KESIMPULAN
Sistem informasi digunakan oleh manajemen untuk mendapatkan informasi secara internal maupun eksternal. Informasi tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam menentukan strategi yang tepat dalam persaingan bisnis yang sedang terjadi.
Sistem informasi juga digunakan dalam proses bisnis untuk memperlancar proses itu sendiri, dengan sistem informasi yang terpusat menggunakan internetworking dan digunakan oleh setiap bagian yang ada sehingga mempercepat pertukaran informasi yang akurat lebih efektif dan efisien
Secara umum. Kegagalan dari sistem informasi bukan hanya pada bagian-bagiannya saja, tetapi pada keseluruhan sistem yang tidak dapat digunakan sebagaimana yang diharapkan. Pengguna harus memahami sistem informasi dan mengembangkan prosedur manual paralel untuk membuat sistem bekerja secara sempurna. Terdapat faktor penyebab munculnya masalah pada sistem informasi. Faktor tersebut dapat bersifat teknis dan nonteknis. Faktor-faktor tersebut yaitu:Desain, Data, Biaya, dan Operasi
Faktor-faktor yang dijadikan ukuran keberhasilan penerapan suatu sistem menurut Laudon yaitu: tingkat penggunaannya relatif tinggi, Kepuasan pengguna terhadap sistem, Sikap yang menguntungkan para pengguna terhadap sistem informasi dan staff dari sistem informasi, Tujuan yang dicapai dan Imbal balik keuangan untuk organisasi.
Sistem informasi menjadi prioritas pertama untuk dikembangkan karena besarnya kekuatan-kekuatan lingkungan eksternal dan kesamaan dari kekuatan faktor internal atau institusional. Beberapa sistem gagal karena benturan diantara keadaan atau lingkungan internal.
beberapa faktor yang dapat yang dapat menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi atau perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesukesan penerapan sistem informasi, antara lain adanya dukungan dari manajemen eksekutif, keterlibatan end user (pemakai akhir), penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang matang, dan harapan perusahaan yang nyata. Sementara alasan kegagalan penerapan sistem informasi antara lain karena kurangnya dukungan manajemen eksekutif dan input dari end-user, pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang tidak lengkap dan selalu berubah-ubah, serta inkompetensi secara teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Fuadi, A. 1995. Langkah-Langkah Menuju Penyempurnaan Sistem Informasi.
Majalah Manajemen. Edisi September-Oktober.
Kroenke, David M. 1994. Management Information System. McGraw Hill
O’Brien, James A. 1999. Management Information Systems: Managing Information Tecnology in The Networked Enterprice, forth Edition, IRWIN, USA.
O’Brien, James A. 2002. Pengantar Sistem Informasi. Salemba Empat, Jakarta.

O’Brien, JA and George Marakas 2009. Management Information Sistem. Ninth Edition. McGraw-Hill.Inc. Boston.

Unsur dari Perencanaan Strategis Sistem Informasi

  1. Pernyataan dari goals dan objectives korporat/ institusi
  2. Pernyataan dari goals dan objectives sistem informasi
  1. Kebutuhan manajemen informasi
  2. Faktor sukses yang penting
  3. Kebijakan informasi
  4. Klinik
  5. Administratif
  6. Dukungan keputusan
    1. Level distribusi (sentralisasi hingga desentralisasi)
    2. Arsitektur jaringan
    3. Lokasi data (perkakas data pusat hingga distribusi data keseluruhan)
    4. Keamanan basis data dan kebutuhan pengendalian
    5. a.      Paket komersial
    6. b.      Pengembangan in-house
    7. Aplikasi tailor-made melalui kontraktor
    8. Kombinasi dari semuanya
    9. Kepegawaian system informasi pusat
    10. b.      Outsourcing
    11. Limited central staffing dalam mendukung staf sistem informasi pada level departemen
    12. Kombinasi semuanya
    13. Anggaran modal (perangkat keras, perangkat lunak, perlengkapan jaringan komunikasi)
    14. Anggaran operasional (staff, persediaan, konsultan, pelatihan, dll.)
  1. Prioritas dari portofolio aplikasi
  1. Spesifikasi dari system arsitektur dan infrastruktur secara keseluruhan
  1. Rencana pengembangan software
  1. Rencana manajemen sistem informasi
  1. Pernyataan kebutuhan sumber daya.

Goals dan Objective dalam Unsur dari Perencanaan Strategis Sistem Informasi

Rencana harus dimulai dengan sebuah tinjauan  atau pernyataan pasti tentang goals dan objectives selama periode waktu perencanaan (biasanya dua hingga lima tahun). Goals dan objectives dari sistem informasi harus dibedakan dengan tujuan strategis dari organisasi. Contohnya, jika CQI merupakan sebuah prioritas utama dari organisasi, dan selanjutnya tujuan ini harus direfleksikan untuk prioritas pengembangan sistem informasi- dengan perhatian biasa yang diberikan untuk rekam medis; clinical protocols; pelaporan kecelakaan; ukuran pasien, tenaga medis dan kepuasan karyawan. Jika diversifikasi dan ekspansi dasar pelayanan pasar merupakan tujuan strategis, sehingga sistem informasi harus berfokus pada penggunaan analisis dan peramalan, analisis perubahan dalam gambaran demografik dari pasar, dan analisis kebutuhan sumber daya untuk pengembangan pelayanan. Jika sebuah Puskesmas telah menentukan prioritas dalam ekspansi upaya pelayanan ambulatori tetapi prioritas sistem informasi berlanjut untuk fokus pada pelayanan rawat inap, sehingga organisasi memiliki masalah serius dalam ketidaksesuaian tujuan.
            Dalam tinjauan klasik artikel Havard Business Review, Rockart (1979) memaparkan bahwa faktor kritikal keberhasilan (CSF) harusnya digunakan dalam mendefinisikan kebutuhan informasi dan tujuan sistem informasi selama proses perencanaan. Eksekutif atas perlu untuk mendefinisikan kebutuhan ini tetap sering sulit menggambarkan kebutuhan mereka terhadap manajemen informasi. Dengan mengkhususkan area kritis dimana sesuatu harus berjalan sesuai dengan organisasi hingga tumbuh, eksekutif harus mengawal tim perencanaan sistem informasi dalam menentukan kebutuhan informasi dan menentukan prioritas untuk pengembangan sistem.
            Tujuan dari sistem informasi seharusnya lebih spesifik dan melalui sebuah kajian terhadapa prioritas strategik sebaik analisis defisiensi dan kesenjangan antara proses informasi yang terbaru. Mencegah pernyataan umum dari sebuah tujuan seperti “Sistem informasi untuk kota metropolitan harus didesain untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan menambah efisiensi dari operasional sistem”. Pernyataan seperti itu merupakan sebuah pernyataan yang self evident dan tidak fungsional sejauh perencanaan dilaksanakan. Lebih dari itu, sebuah list mendetail tentang tujuan seharusnya dibuat yang dilengkapi dengan target spesifik yang berorientasi kemajuan masa depan serta yang dapat diukur dan dapat dievaluasi sistemnya. Contoh dari beberapa tujuan strategis antara lain :

  1. Sistem informasi harus didesain sehingga seluruh rekaman dari file indeks pasien  tersedia secara online bagi selutuh tenaga medis yang ada dalam perencanaan.
  2. Sistem informasi harusnya didesain sehingga diagnosis hasil pemeriksaan tersedia dalam dua jam setelah tes selesai dilakukan.
  3. Sistem informasi harus didesain sehingga informasi dari aktivitas diagnostik pasien rawat jalan dan rawat inap dikumpulkan menjadi satu basis data sehingga manajemen dapat melihat share dari sistem informasi terhadap seluruh area pasar dan dapat dimanfaatkan menjadi data pemasaran.

PSSI 1

Perancangan Strategis Sistem Informasi

Kali ini saya akan memposting sedikti materi tentang matakuliah yang saya ambil pada semester 4 kali ini yaitu "Perencanaan Sistem Strategis Sistem Informasi (PSSI)".
Mata kuliah PSSI ini mempelajari tentang bagaimana cara membuat perencanaan sistem informasi yang baik dengan menggunakan metode dan aturan tertentu sehingga dapat berhasil saat diterapkan. Di sini saya akan membahas tentang Perencanaan Strategis Sistem Informasi serta beberapa metode-metode yang dapat digunakan.
Banyak pendapat mengenai definisi perencanaan strategis sistem informasi disini saya akan tampilkan pendapat dari beberapa ahli :
“Proses untuk mengidentifikasi sejumlah portofolio solusi sistem dan teknologi informasi (computer-based application & solution) untuk mendukung organisasi mencapai rencana bisnis dan tujuan bisnisnya” 
-LEDERER & GARDINER 1992-
“Proses untuk sistem aplikasi yang dapat mendukung dan mengembangkan strategi organisasi, serta menyediakan framework untuk mengimplementasikan sistem ini secara efektif”  
-FIDLER & ROGERSON, 1996-
Jadi dapat disimpulkan bahwa Perencanaan Strategi Sistem Informasi adalah suatu proses untuk menyusun perencanaan untuk penggunaan dan implementasi sistem dan teknologi informasi secara komprehensif pada suatu organisasi/ perusahaan yang sejalan (aligned) dengan strategi bisnis organisasi/ perusahaan untuk mendukung pencapaian tujuan (goals) organisasi secara efektif dan efisien.
Metode-Metode Perencanaan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi :
1.        Business System Planning (BSP)
BSP merupakan satu metoda perancangan strategi sistem informasi yang mengkombinasikan antara pendekatan top down dan pendekatan bottom up. Metode inid ikembangkan oleh IBM pada tahun 1980.


Proses Utama pada BSP :
·         Penentuan Tujuan Bisnis Perusahaan (Business Objective)
·         Penentuan Bisnis Proses
·         Penentuan Data-Data Kelas
·         Penentuan Arsitektur Informasi Perusahaan
Dalam metoda BSP, untuk dapat menentukan proses bisnis dalam suatu organisasi, terlebih dahulu kita harus memahami siklus hidup sumber daya yang terdapat dalam organisasi tersebut.
Tahap 1 : Requirements, Planning, Measurement and Control
Tahap 2 : Acquisition and Implementation
Tahap 3 : Stewardship
Tahap 4 : Retirement or Disposition
2.        Four-Stage Model
Four-stage model merupakan salah satu metoda yang digunakan dalam perencanaan teknologi /sistem informasi. Model ini bertujuan untuk mengidentifikasi proyek sistem
informasi yang akan dibangun dan mengidentifikasi kebutuhan sumber daya sehingga
mendukung pencapaian tujuan organisasi.

Four-stage model terdiri dari empat tahap/ aktivitas utama , yakni :
Tahap 1 : Perencanaan informasi strategis
Tahap 2 : Analisa kebutuhan informasi
Tahap 3 : Alokasi sumber daya
Tahap 4 : Perencanaan proyek
3.        Information Engineering Technology (IEM)
IEM merupakan sekumpulan teknik-teknik formal yang saling terkait dimana model perusahaan bisnis, model data, dan model prosesnya dibangun berdasarkan pengetahuan yang dapat dipahami dan digunakan untuk membuat dan mengatur sistem pemrosesan data. IEM dikembangkan oleh James Martin pada tahun 1970 dan digunakan pertama kali pada saat ia bekerja di Institut Perancangan Sistem IBM.
IEM memungkinkan Departemen Sistem Informasi (IS) untuk menyusun tujuan-tujuannya bersamaan dengan strategi-strategi perusahaan/ organisasi. Sebagai timbal balik, pencapaian tujuan-tujuan IS turut mendukung kesuksesan rekayasa ulang bisnis. Tahapan perancangan dan pembangunan dapat diautomasi oleh alat bantu.
CASE (Computer Aided Software Engineering)  =>  IE Workbench
IEM terdiri dari empat tahap/ aktivitas utama, yakni :
Tahap 1 : Perencanaan Strategis Informasi
Tahap 2 : Analisis Area Bisnis
Tahap 3 :Perancangan Sistem